Timur Tengah Mendidih, Iran & Israel Siap Saling Hancurkan!
- account_circle sampulberita.co
- calendar_month Minggu, 15 Jun 2025
- comment 0 komentar

sampulberita.co Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya! Perang sengit antara Iran dan Israel telah memasuki hari ketiga, dengan serangan balasan rudal dan drone yang tak henti-hentinya.
Situasi makin genting, bukan hanya karena jumlah korban yang terus bertambah, tapi juga karena seruan mengejutkan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, agar rakyat Iran sendiri berontak melawan pemerintahnya.
Sejak serangan mematikan Israel pada Jumat lalu (14/6/2025) yang menghantam fasilitas nuklir, militer, hingga permukiman padat di Iran, Teheran telah membalas dengan rentetan drone dan rudal balistik. Video-video yang beredar menunjukkan asap pekat dan puing-puing berserakan di Teheran utara, bahkan ada dugaan Gedung Kementerian Kehakiman Iran ikut jadi sasaran.
Media Iran melaporkan angka yang mengerikan: 128 orang tewas dan sekitar 900 lainnya terluka akibat serangan Israel. Namun, dampaknya tak hanya di sana. Israel juga merasakan ganasnya serangan balasan Iran. PM Netanyahu bersumpah Iran akan membayar “harga yang sangat mahal,” setelah setidaknya 10 orang tewas di Israel, termasuk tiga anak-anak, akibat rudal Iran hingga Minggu dini hari. Militer Israel mencatat lebih dari 200 roket diluncurkan dari Iran dalam waktu singkat.
Netanyahu Serukan Rakyat Iran Berontak
Di tengah serangan, PM Netanyahu menyerukan rakyat Iran untuk berdiri dan membiarkan suara kalian didengar, mendesak mereka memberontak demi kebebasan dari rezim yang jahat dan opresif. Namun, seruan Netanyahu ini tampaknya tak mendapat sambutan hangat dari rakyat Iran. Meskipun rezim mereka tak selalu populer, banyak warga yang diwawancarai justru menunjukkan kemarahan pada Israel.
Dilansir dari CNN warga Iran di Teheran mengatakan bahwa Israel meremehkan cinta terhadap negara mereka Iran dan tidak ingin mendengar seruan dari orang yang melakukan pemboman terhadap mereka, rumah mereka dan membunuh anak-anak mereka, akan membuat mereka turun ke jalan adalah hal yang mengejutkan.
Seorang wanita 28 tahun bernama Neda menegaskan, “Apakah saya berharap rezim ini tidak berkuasa? Tentu saja. Apakah saya ingin kota saya dibom oleh diktator lain? Tentu tidak.” Ia juga memperingatkan untuk tidak mudah termakan “berita palsu dan pidato propaganda.”
Melihat situasi yang makin memanas, para pemimpin dunia mendesak penyelesaian. Presiden AS Donald Trump menyerukan kedua belah pihak untuk membuat kesepakatan damai. Kanselir Jerman Friedrich Merz menekankan pentingnya Iran tidak memiliki senjata nuklir, sementara Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyebut program nuklir Iran sebagai “ancaman eksistensial.”
Di tengah semua ini, militer Israel terus mengklaim serangannya menargetkan “inti dari program pengayaan nuklir Iran” dan merupakan “serangan paling jauh” ke wilayah Iran. Mereka bahkan mengeluarkan peringatan “mendesak” bagi warga Iran yang tinggal dekat fasilitas produksi senjata untuk segera mengungsi.
Sementara itu, warga Iran diliputi ketakutan. Banyak yang mengungsi dari Teheran menuju pedesaan. Jalanan macet parah, antrean panjang di pom bensin, dan pembatasan penarikan uang dari ATM menjadi pemandangan harian. Pemerintah Iran pun terpaksa membuka metro, sekolah, dan masjid 24 jam sebagai tempat berlindung.
- Penulis: sampulberita.co

Saat ini belum ada komentar