Breaking News
light_mode
Beranda » Berita » GAZA Menjadi Negara Paling Kelaparan Parah di Dunia Saat Ini

GAZA Menjadi Negara Paling Kelaparan Parah di Dunia Saat Ini

  • account_circle sampulberita.co
  • calendar_month Sabtu, 31 Mei 2025
  • comment 0 komentar

Jens Laerke, Juru bicara kantor PBB Koordinasi UN OCHA saat menyampaikan situasi Gaza saat ini

sampulberita.co Gaza menjadi negara yang paling menderita kelaparan di dunia. Hal ini disampaikan oleh juru bicara Kantor PBB Koordinasi Urusan Kemanusiaan, Jens Laerke pada Jumat (30/5/2025) dikutip dari situs web PBB.

Jens menyampaikan, Gaza menjadi wilayah dimana seluruh populasinya berada dalam risiko kelaparan. Operasi bantuan yang telah disiapkan tersendat oleh hambatan operasional, menjadikannya salah satu operasi bantuan paling terhambat

“Bukan hanya saat ini di dunia, tapi juga dalam sejarah kemanusiaan belakangan ini”‘ kata Jens kepada awak media di Jenewa, Swiss, dilaporkan dari situs web PBB.

Ia menjelaskan sejak pembukaan kembali perbatasan Kerem Shalom sekitar 10 hari yang lalu, hampir 900 truk bantuan telah disetujui Israel untuk memasuki Gaza, tetapi kurang dari 600 berhasil diturunkan di sisi Gaza.

Menurutnya jumlah bantuan tersebut diangkut untuk lebih minim lagi karena para pekerja kemanusiaan harus melalui jalur-jalur yang padat dan tidak aman sesuai dengan penunjukan otoritas Israel, serta mengalami penundaan signifikan dalam proses persetujuan.

Jens menyampaikan bahwa jumlah truk bantuan yang masuk sangat terbatas. Selama bantuan ini masuk, banyak truk bantuan dikepung oleh orang-orang putus asa selama perjalanan.

Berdasarkan informasi yang diterima oleh Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), dilaporkan bahwa 47 warga Palestina yang mencoba mengambil bantuan dari pusat distribusi di Gaza Selatan pada Selasa (27/5/2025) ditembak oleh pasukan Israel.

Kondisi Gaza

Jonathan Whittall, Kepala OCHA untuk wilayah pendudukan Palestina, merespons insiden tersebut dengan memperingatkan bahwa skema distribusi bantuan yang dilakukan oleh AS dan Israel adalah upaya rekayasa kelangkaan.

Empat pusat distribusi di Gaza tengah dan selatan yang dijaga oleh kontraktor keamanan swasta AS merupakan titik di mana warga Palestina yang berhasil mencapai tempat tersebut akan menerima bantuan.

Jens Laerke mengkritik bahwa situasi tersebut menciptakan kekacauan dan membahayakan masyarakat.

“Itu menciptakan kekacauan dan menciptakan situasi yang sangat berbahaya bagi masyarakat”, kecam Jens Laerke.

Dia menegaskan bahwa setelah menerima bantuan dari titik distribusi, masyarakat masih berisiko menjadi korban kejahatan.

Ia kembali menekankan perlunya membuka kembali semua titik penyeberangan ke Gaza untuk mengizinkan pengiriman bantuan melalui semua jalur, termasuk melalui Yordania dan Mesir. Dia juga menekankan pentingnya untuk mengirimkan bantuan langsung ke rumah tangga seperti yang dilakukan sebelumnya.

Juru bicara PBB ini menyebutkan bahwa lebih dari 80% wilayah Gaza saat ini terletak dalam zona militer Israel atau di bawah perintah evakuasi. Saat ini sekitar 635.000 jiwa di wilayah Gaza telah mengungsi kembali semenjak gencatan senjata Israel dan Hamas pada 18 Maret 2025 lalu.

  • Penulis: sampulberita.co

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less