Thailand – Indonesia Teratas Dalam Ketimpangan Kekayaan
- account_circle sampulberita.co
- calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
- comment 0 komentar

sampulberita.co
Laporan terbaru dari WID.world (2025) menjadi peringatan keras bagi negara-negara di Asia Tenggara. Di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang masif, wilayah ini justru dihadapkan pada jurang ketimpangan pendapatan yang menganga.
Data-data yang dipaparkan WID.world secara gamblang menunjukkan urgensi bagi ASEAN untuk mengambil langkah-langkah inklusif demi mewujudkan pemerataan kesejahteraan, bukan sekadar pertumbuhan yang dinikmati segelintir pihak.
Laporan WID.world menempatkan Thailand sebagai negara dengan ketimpangan kekayaan tertinggi di Asia Tenggara, mencapai 34,6%. Angka ini menjadi cerminan nyata dari tingginya konsentrasi kekayaan pada kelompok elit kecil di Negeri Gajah Putih. Ironisnya, pertumbuhan ekonomi yang pesat di Thailand ternyata belum mampu menekan dominasi segelintir orang dalam menguasai sumber daya.
Tak kalah merisaukan, Indonesia berada di posisi kedua dengan selisih pendapatan 32,3%. Sebagai negara keempat terpadat di dunia, tingginya ketimpangan ini menjadi alarm bahaya. Akses terhadap peluang ekonomi yang masih sulit bagi kelas menengah dan bawah berpotensi memicu gejolak sosial jika tidak segera diatasi. Data ini menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun signifikan, belum merata dan hanya menguntungkan sebagian kecil penduduk.
Sementara itu, Singapura, meskipun dikenal sebagai negara berpendapatan tinggi dan makmur, menempati posisi ketiga dalam hal ketimpangan kekayaan dengan 30,5%. Fakta ini menegaskan bahwa kemakmuran ekonomi tidak otomatis menjamin kesetaraan ekonomi. Model pembangunan Singapura yang sangat mengandalkan sektor keuangan dan jasa, meskipun sukses mendulang keuntungan, agaknya belum mampu menciptakan distribusi kekayaan yang lebih adil di seluruh lapisan masyarakatnya.
Malaysia dan Laos Ikut Terseret, Brunei, Myanmar, dan Vietnam Lebih Baik
Daftar lima besar negara dengan ketimpangan kekayaan tertinggi di Asia Tenggara juga diisi oleh Malaysia (27,4%) dan Laos (27,1%). Kedua negara ini, meskipun dengan kondisi ekonomi yang berbeda, tetap menghadapi tantangan serupa dalam memastikan buah pertumbuhan dinikmati oleh semua.
Di sisi lain, laporan WID.world juga memberikan gambaran yang lebih baik dari beberapa negara. Brunei Darussalam, yang ekonominya sangat bergantung pada minyak, surprisingly memiliki tingkat ketimpangan yang rendah di kawasan, yaitu 23,5%. Disusul oleh Myanmar (24,6%) dan Vietnam (24,9%). Pencapaian Vietnam, khususnya, patut dicermati. Dengan laju pertumbuhan yang juga tinggi, Vietnam mampu mengelola ketimpangan dengan lebih baik, mungkin berkat kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak pada pemerataan atau distribusi yang lebih adil dari kesempatan ekonomi.
Digitalisasi dan Pertumbuhan Ekonomi: Pedang Bermata Dua
Pesatnya digitalisasi dan pertumbuhan ekonomi di ASEAN seharusnya menjadi katalisator bagi peningkatan kesejahteraan. Namun, jika tidak diiringi dengan kebijakan yang tepat dan intervensi yang efektif, justru bisa menjadi pedang bermata dua. Risiko kesenjangan kekayaan yang semakin melebar bukan hanya akan memicu ketegangan sosial, tetapi juga dapat membahayakan stabilitas ekonomi di masa depan. Kelompok masyarakat yang tertinggal dalam arus digitalisasi dan pertumbuhan ekonomi akan semakin terpinggirkan, menciptakan kantong-kantong kemiskinan dan ketidakpuasan yang dapat menjadi bom waktu.
Para ekonom dan pembuat kebijakan di Asia Tenggara kini dihadapkan pada tugas yang tidak mudah. Mereka harus memastikan bahwa kemajuan ekonomi yang cepat ini dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir elit yang sudah mapan.
Pertanyaan utama yang mengemuka dari laporan ini adalah: langkah konkret apa yang akan diambil oleh negara-negara ASEAN untuk mengurangi kesenjangan ini? Apakah akan ada reformasi kebijakan pajak yang lebih progresif, investasi yang lebih besar dalam pendidikan dan kesehatan yang inklusif, ataukah pengembangan program-program yang secara langsung memberdayakan kelompok menengah ke bawah? Tanpa jawaban yang jelas dan tindakan yang tegas, gemerlap pertumbuhan ekonomi ASEAN mungkin hanya akan menyembunyikan ancaman serius bagi masa depan stabilitas dan keadilan di kawasan ini.
- Penulis: sampulberita.co

Saat ini belum ada komentar