UMKM Anak Tiri di Tengah Gurita Berita Nasional?
- account_circle sampulberita.co
- calendar_month Sabtu, 14 Jun 2025
- comment 0 komentar


sampulberita.co Mari kita bicara jujur. Di tengah hingar-bingar berita politik, skandal selebriti, atau update teknologi terkini, di mana posisi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal di mata media kita?
Seringkali, mereka hanya menjadi pelengkap derita atau sekadar data statistik yang dipasang di sela-sela laporan ekonomi makro. Ini bukan soal kurangnya berita, tapi soal kurangnya prioritas dan perspektif.
Berapa banyak media besar yang punya rubrik khusus, investigasi mendalam, atau bahkan platform dedikasi untuk mengangkat UMKM secara konsisten? Jujur saja, tidak banyak.
Kalaupun ada, seringnya hanya permukaan. Kisah sukses yang manis, tanpa menggali lika-liku perjuangan, hambatan birokrasi, atau tantangan pemasaran yang sesungguhnya mereka hadapi.
Ini bukan jurnalisme, ini press release gratisan yang dibungkus ulang. Meliput UMKM hanya ketika ada pameran besar, dapat penghargaan, atau kebetulan ada kebijakan pemerintah yang baru. Setelah itu? Hilang begitu saja. Tidak ada follow-up. Tidak ada analisis mengapa UMKM tertentu bisa berhasil atau mengapa yang lain terpuruk.
Padahal, peran media jurnalistik seharusnya lebih dari sekadar corong informasi. Mereka adalah pilar keempat demokrasi, pengawas, dan fasilitator. Untuk UMKM, media bisa menjadi jembatan antara produk lokal dengan pasar yang lebih luas, antara ide inovatif dengan investor potensial, atau antara masalah yang dialami UMKM dengan solusi kebijakan. Tapi, apakah ini benar-benar terjadi
Lihatlah, berapa banyak cerita tentang UMKM yang kesulitan mengakses modal, yang produknya kalah saing dengan impor, atau yang inovasinya tidak diketahui publik? Sangat Sedikit.
Media cenderung memilih berita yang mudah, yang sudah dikemas rapi oleh humas atau asosiasi. Ini bukan jurnalisme investigatif yang pro-rakyat kecil, ini lebih mirip saluran promosi berbayar yang tak terlihat. Media Bukan Sekadar Papan Iklan, tapi sebagai salah satu pelopor pendorong perubahan, pertumbuhan kritik, ini bukan tanpa alasan.
Di era digital, UMKM semakin membutuhkan visibilitas dan narasi yang kuat untuk bersaing. Media jurnalistik, dengan kredibilitas dan jangkauannya, memiliki kekuatan luar biasa untuk memberikan itu.
Mereka bisa menjadi mentor secara tidak langsung, memberikan insight pasar, atau bahkan mengedukasi konsumen tentang pentingnya membeli produk lokal.Namun, jika mentalitasnya masih kalau mau diliput, ya bayar iklan, maka media telah gagal dalam salah satu fungsi esensialnya.
UMKM, terutama yang mikro, seringkali tidak punya anggaran iklan sebesar korporasi besar. Mereka butuh dukungan jurnalisme murni, yang melihat potensi, yang berani menggali cerita di balik layar, dan yang peduli pada denyut ekonomi rakyat.
Jadi, bagi para insan media jurnalistik, sudah saatnya introspeksi. Hentikan liputan yang superfisial. Mulai berinvestasi pada jurnalis yang mau blusukan ke pasar tradisional, ke bengkel rumahan, atau ke warung kecil.
Gali cerita-cerita otentik, tantang narasi yang ada, dan jadilah katalisator nyata bagi pertumbuhan UMKM lokal. Karena pada akhirnya, pertumbuhan UMKM adalah cerminan kesehatan ekonomi bangsa. Dan media, harusnya, ada di garis depan perjuangan itu, bukan hanya di kursi penonton.
- Penulis: sampulberita.co

Saat ini belum ada komentar