Breaking News
light_mode
Beranda » Berita » Sejarah Lima Kecamatan Awal Kutim Diminta Masuk Buku Sejarah Daerah

Sejarah Lima Kecamatan Awal Kutim Diminta Masuk Buku Sejarah Daerah

  • account_circle sampulberita.co
  • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
  • comment 0 komentar

SAMPULBERITA.CO, SANGATTA – Penulisan sejarah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) didorong tidak hanya membahas perjalanan wilayah Kutai secara umum, tetapi turut mengangkat jejak lima kecamatan yang menjadi bagian awal terbentuknya daerah tersebut.

Lima wilayah itu meliputi Muara Ancalong, Muara Bengkal, Muara Wahau, Sangatta, dan Sangkulirang. Kelima kecamatan tersebut disebut memiliki posisi penting dalam menggambarkan perjalanan awal Kutim sebelum wilayah administrasinya berkembang menjadi 18 kecamatan.

Hal itu disampaikan Kepala Disdikbud Kutim,Mulyono dalam pembahasan mengenai penyusunan buku sejarah dan kebudayaan daerah. Pemerintah daerah menilai dokumentasi sejarah perlu disusun secara utuh agar masyarakat dapat memahami perkembangan Kutim berdasarkan sumber dan kajian yang jelas.L

“Lima kecamatan itu harus tersentuh karena kita berbicara wilayahnya Kutai Timur,” ujar mulyono, Selasa 22 September 2026.

Ia menjelaskan, Kutim terbentuk melalui proses pemekaran wilayah Kutai. Pada masa awal pembentukannya, wilayah Kutim hanya terdiri dari lima kecamatan. Seiring pertumbuhan dan kebutuhan pemerintahan, jumlah kecamatan kemudian bertambah hingga mencapai 18 wilayah administratif.

Karena itu, sejarah daerah dinilai perlu menempatkan perjalanan lima kecamatan tersebut sebagai bagian penting dalam narasi perkembangan Kutim. Informasi mengenai lokasi penemuan, peristiwa maupun peninggalan sejarah di wilayah tersebut juga diharapkan dapat memperjelas keterkaitannya dengan sejarah Kutim.

Menurut Mulyono, penulisan yang masih berada pada tahap awal masih dapat disempurnakan. Materi yang sebelumnya banyak membahas sejarah Kutai secara luas perlu dipertegas dengan memasukkan konteks lokal Kutim.

“Kalau sampai awal tadi kan kita enggak ketemu mana Kutai Timurnya. Itu masih bicara Kutai. Tapi kalau pertama kali ditemukan di Sangkulirang atau di Muara Ancalong, itu kan menjadi catatan bahwa itu memang wilayah Kutai,” jelas dia.

Dokumentasi tersebut nantinya tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan informasi publik. Buku sejarah dan budaya juga diproyeksikan menjadi bagian dari koleksi museum yang sedang dipersiapkan pemerintah daerah.

Dengan demikian, keberadaan buku diharapkan mampu menjadi sumber informasi yang lebih lengkap sekaligus membantu generasi berikutnya mengenali perjalanan sejarah daerahnya. (Adv/Kominfo)

  • Penulis: sampulberita.co

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less