Breaking News
light_mode
Beranda » Kominfo Kutim » Langkah Kongkrit Disdikbud, ATS di Kutim Turun Signifikan

Langkah Kongkrit Disdikbud, ATS di Kutim Turun Signifikan

  • account_circle sampulberita.co
  • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
  • comment 0 komentar

Sampulberita.com – Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kutai Timur (Kutim) mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data Pusat Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen RI, jumlah ATS di Kutim yang sebelumnya 12.802 anak menjadi sekitar 9.000 anak. Penurun ini, merupakan langkah konkrit dari Pemerintah Kabupaten Kutim melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran pendidikan bersama lintas sektor yang secara aktif melakukan pendataan dan penanganan langsung di lapangan.

“Alhamdulillah, berkat kerja keras dan sinergi semua pihak, angka anak tidak sekolah di Kutim berhasil turun. Dari 12.802 anak kini menjadi sekitar 9.000, berarti ada penurunan sekitar 4.000 anak,” ujar dia di Sangatta, Kamis (30/10/2025)

Ia menjelaskan, dari total 12.802 anak yang tercatat sebelumnya, sebanyak 9.463 anak belum pernah bersekolah, 1.451 anak sudah lulus namun tidak melanjutkan pendidikan, dan 1.888 anak putus sekolah di tengah jalan. Kondisi tersebut sempat menempatkan Kutai Timur sebagai salah satu daerah dengan jumlah ATS cukup tinggi secara nasional.

Menanggapi hal itu, Disdikbud Kutim langsung bergerak cepat dengan melakukan pendataan mandiri untuk memastikan keakuratan informasi di lapangan. Data ATS kini disusun lebih detail by name by address, dan tengah divalidasi agar program intervensi bisa tepat sasaran.

“Meskipun ada penurunan, perjuangan kami belum selesai. Masih ada sekitar 9.000 anak yang belum kembali ke bangku sekolah, dan InsyaAllah dalam waktu dekat bisa berkurang lagi sekitar 4.000 anak,” tambahnya optimistis.

Selain validasi data, Disdikbud Kutim kini tengah menyiapkan proyek perubahan yang fokus pada upaya mengatasi persoalan ATS secara sistematis dan berkelanjutan. Program tersebut melibatkan berbagai sektor, mulai dari perangkat daerah, lembaga sosial, hingga dukungan masyarakat.

Mulyono juga menyoroti pernikahan dini sebagai salah satu penyebab utama anak berhenti sekolah. Menurutnya, edukasi pencegahan di tingkat keluarga dan masyarakat sangat penting untuk memastikan anak-anak menyelesaikan pendidikan mereka.

“Banyak anak yang akhirnya berhenti sekolah karena menikah muda. Ini harus dicegah sejak dini agar mereka bisa punya masa depan lebih baik,” imbuh dia. (adv/rls)

  • Penulis: sampulberita.co

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less